Minggu, 09 Januari 2011

PERANAN LINGKUNGAN KELUARAGA DALAM PERKEMBANGAN ANAK

 PERANAN LINGKUNGAN KELUARAGA DALAM PERKEMBANGAN ANAK
Oleh : Ustadz Jaswo

Keluarga merupakan kesatuan terkecil dari masyarakat yang mengelola segala kebutuhan rumah tangga sendiri. Seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan dunia di segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, perindustrian, kenegaraan, kesenian, ilmu pengetahuan dan pendidikan menyebabkan timbulnya berbagai macam problema di lingkungan keluarga. Orang tua selaku kepala keluarga sibuk akan aktifitasnya sendiri. Seorang ayah dituntut agar bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sejajar dengan itu kaum wanita atau ibu mempunyai tugas mencurahkan tenaga dan pikiran dalam membina rumah tangga serta mendidik anak-anaknya. Dengan adanya emansipasi, maka banyak wanita yang menyimpang dari perananya, bekerja diluar rumah tangga sehingga tugas mendidik anak-anaknya tidak bisa terpenuhi.
Di dalam keluarga yang sudah sedemikian seperti di era sekarang ini, keluarga yang akrab dan kecil hanya berfungsi mengembangkan keturunan dan membina rumah tangga dalam suasana yang sangat sederhana. Fungsi inilah yang tetap dipegang oleh keluarga di zaman sekarang ini. Keluarga atau orang tua tidak mungkin mampu mendidik anak mereka di bidang akhlak dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk bekal hidupnya di masa depan.
Alam sekitar yang terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah merupakan lingkungan yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Segala perilaku dan perbuatan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan, bahkan merupakan faktor penting dalam menentukan kepribadian manusia. Sebagaimana dikatakan oleh John Locke dalam aliran empirisme bahwa “Perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman yang diperoleh sejak kecil”.[1] Dia memandang bahwa anak yang dihirkan itu ibarat kertas putih yang bersih dan masih kosong belum terisi tulisan apapun.
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pembentukan pribadi anak. Hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama lingkungan keluarga. Keluarga yang harmonis dan agamis dapat menunjang keberhasilan pribadi anak sehingga dapat memiliki akhlak mulia. Tugas keluarga yang berat ini tidak bisa ditanggung sendiri, tetapi harus dibantu oleh pihak lainyakni sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Sekolah berkewajiban membantu keluarga dalam mendidik anak-anak dan melanjutkan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua di rumah. Berhasil baik atau tidaknya pendidikan disekolah dipengaruhi oleh pendidikan dalam keluarga, karena pendidikan keluarga merupakan fondamen dalam membentuk akhlak anak sebagai bekal utama untuk melanjutkan pendidikan di sekolah maupun di masyarakat.
Dengan demikian akhlak anak terbentuk dimulai dari lingkungan keluarga itu sendiri kemudian berpijak pada landasan iman kepada Allah S.W.T. dan terdidik untuk selalu ingat, taat serta melaksanakan dalam prilaku kehidupan sehari-hari. Ia ingin memiliki potensi dan respon secara instinktif di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan. Disamping terbiasa melaksanakan akhlak mulia, juga sebagai benteng pertahanan relegius yang berakar pada hati sanubarinya. Kebiasaan mengingat kepada Allah S.W.T. yang telah dihayati dalam dirinya serta intropeksi diri dapat menguasai pikiran dan perasaan sehingga bisa memisahkan anak dari sifat-sifat negatif, kebiasaan-kebiasaan dosa dan tradisi jahiliyah yang rusak, bahkan penerimaanya dalam setiap kebaikan akan menjadi salah satu kebiasaan dan kesenangan terhadap keutamaan kemudian akan menjadi akhlak dan sifat yang mulia.
Hal ini sesuai dengan firman Allah S.W.T. di dalam Al-qur’an QS. Ali Imron 159 :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ ج وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيـْظَ الْقَـلْبِ لاَنْفَضُّـواْ مِنْ حَوْلِكَ ص فاَعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِـرْلَهُمْ وَشـَاوِرْهُمْ فِى اْلاَمْرِ ج فَاِذاَ عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلى اللهِ ط إِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمُتَـوَكِّلِـيْنَ (العمران : ١٥٩).
Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kami berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kami bersikap keras lagi berhati kasar, tentunya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kami telah membulatkan tekad maka bertaqwalah kepada Allah S.W.T. Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”[2]


Berdasarkan firman Allah S.W.T. di dalam Al-qur’an QS. At-Tahrim 6 :
ياأَيُّهاَ الَّذِيْنَ أمَنُوْا قُوْا اَنْفُسِكُمْ وَاهْلِكُمْ ناَراً وَقُوْدُهاَ النّاَسُ واَلْحِجَارَةُ عَلَيْهاَ مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِداَدٌ لاَيَعْصُوْنَ الله ماَاَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ ماَيُؤْمَرُوْنَ (التحريم : ٦)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah-Nya akepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.[3]
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad S.A.W. Al-baihaqi meriwayatkan hadits dari Ibnu Annas RA. Dari Rosulullah S.A.W. bahwa beliau bersabda :
مِنْ حَقِّ الْواَلِدِ عَلىَ الْوَلَدِ أَنْ يُحْسـِنَ أَدَبـَهُ وَيحُْسـِنَ إِسْمَـهُ.
Artinya :  “Diantara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan budi pekerti yang baik dan memberi nama yang baik”[4]
Dengan demikian maka dalam lingkungan sekolah hendaknya diciptakan lingkungan yang islami. Siswa ditanamkan sikap hormat kepada guru, saling menghormati dan menyayangi sesama teman, sehingga tertanam dalam jiwa anak akhlak yang mulia dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penelitian sementara dijumpai masih ada siswa-siswi MTs. Tarbiyatul Islamiyah Raci Kec. Batangan Kabupaten Pati yang hidup ditenga-tengah keluarga yang kurang memperhatikan terhadap perkembangan pribadi anak-anaknya dan juga adanya lingkungan yang kurang menunjang terhadap sikap dan perilaku anak. Sebagai contoh, banyak anak yang hanyut dalam pergaulan bebas diluar rumah, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma agama, sementara keluarga atau orang tua tidak peduli dengan keberadaan anaknya.
Hal ini sangat mempengaruhi terhadap anak sehingga tingkah lakunya menyimpang dari batasan-batasan akhlakul karimah.
Berdasarkan lartar belakang masalah tersebut diatas, maka


[1]  Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyah, Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), hlm. 293.
[2] Departemen Agama RI., Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta : PT. Intermasa, 1985), hlm. 103.
[3]   Ibid., hlm. 103.
[4]  Abdullah Nasih Ulwa, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam , (Semarang : CV. Asy-Syifa, 1981), hlm. 178.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar