Sabtu, 08 Januari 2011

Hadits Tentang Akuntabilitas Pendidikan


Hadits Tentang Akuntabilitas Pendidikan

 1- الحديث 8

أثر العلم فى النفوس و اختلافه باختلافها

HADITS 8

Pengaruh Ilmu di Dalam Jiwa

Dan Perbedaannya dengan perbedaan Jiwa

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ, فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَ الْعَشْبَ الْكَثِيْرَ, وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ – وَفِى رِوَايَةٍ إِخَاذَاتٌ – أَمْسَكَتِ الْمَاءَ, فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ, فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعَوْا - وَفِى رِوَايَةٍ وَرَعَوْا - وَ أَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى, إِنََمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً, فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ, وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ, فَعَلِمَهُ وَعَلَّمَهُ, وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا, وَلَمْ يقْبَلْ هُدَى اللهِ الّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ" رواه البخاري ومسلم والنسأئى.
a. Terjemah :

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra. dari Rasulullah SAW. telah bersabda : “Perumpamaan Allah SWT. mengutus saya dengan membawa petunjuk dan ilmu  adalah bagaikan hujan deras yang menyirami bumi, kemudian diantara bumi itu ada yang subur yang bisa menyerap air, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Dan ada yang tandus –didalam satu riwayat dikatakan  tanah yang padat- yang tidak bisa menyerap air. Kemudian Allah menjadikan air hujan itu bermanfaat bagi manusia untuk minum, menyiram tanaman dan bercocok tanam –di dalam satu riwayat dikatakan untuk mengembala-. Dan juga menyirami bagian bumi yang lain, yaitu lembah yang tidak menahan air (dapat menyerap air) tetapi tidak dapat menumbuhkan rumput.  Yang seperti itu adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bermanfaat baginya terutusnya saya (ajaran saya), kemudian ia mengerti dan mengajarkannya kepada orang lain. Dan perumpamaan orang yang tidak memperhatikan  dan tidak menerima petunjuk Allah yang telah saya bawa”. (HR. Bukhori, Muslim dan An-Nasa’i).

b. Penjelasan :

Allah mengutus Nabi Muhammad SAW. dengan membawa Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia untuk menuju jalan yang benar dan kebaikan, dan sebagai petunjuk, ilmu dan penerang terhadap berbagai kenyataan dan hukum-hukum. Namun manusia tidak menerima semuanya atas petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, tetapi mereka mempunyai reaksi yang  berbeda-beda terhadapnya dikarenakan perbedaan jiwa dan dan perbedaan kesiapan mereka. Dari perbedaan tersebut terdapat 3 (tiga kelompok/golongan), yaitu :
1.      Kelompok orang yang bersih dan jernih jiwanya,  yang tidak ternoda oleh dosa-dosa. Mereka inilah ketika mendengar wahyu disampaikan, akan bersungguh-sungguh memperhatikan, berusaha memahami, merenungkan dan menghafalkannya. Sehingga wahyu tersebut tertanam di dalam jiwa dan hatinya yang suci, kemudian diamalkan dan disebarluaskan kepada orang lain. Kelompok ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang subur, ketika tersiram air hujan dapat menyerap air dan kemudian menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak, yang dapat dimakan oleh binatang dan dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan dapat menumbuhkan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan sebagai harta yang bermanfaat bagi manusia.
2.      Kelompok orang-orang yang kotor dan rusak jiwanya dan mati perasaannya.  Mereka inilah ketika mendengar wahyu disampakan akan berpaling dan tidak mau mendengarkan dengan sombong seolah-olah telinga mereka tertutup, sehingga mereka tidak mau menerima petunjuk. Kelompok ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air dan tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan, apalagi buah-buahan. Air yang mengalir padanya tidak bermanfaat sama sekali baginya, sehingga dimanfaatkan oleh binatang dan manusia untuk minum atau diserap oleh bagian bumi yang lain yang subur.
3.      Kelompok tengah-tengah diantara dua kelompok pertama dan kedua. Mereka ini adalah orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengangan-angan dan memahaminya, serta mengetahui hukum-hukum yang diterangkan oleh Al-Qur’an, mengetahui halal dan haram, namun mereka sendiri tidak mengamalkan, tetapi mengajak dan mengajarkan kepada orang lain. Mereka ini diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air, lalu airnya diminum oleh manusia dan binatang dan diserap oleh bumi yang subur lainnya yang dapat menumbuhkan biji dengan baik sampai berbuah dan di makan oleh manusia dan binatang, maka bumi yang tandus tadi bermanfaat tetapi tidak dapat mengambil manfaat.

c. Inspirasi Pendidikan :

Inspirasi pendidikan yang bisa diambil dari Hadits 8 tersebut adalah :
1.      Guru dalam menyampaikan materi pelajaran harus memperhatikan keadaan murid, karena murid adalah manusia yang mempunyai perbedaan jiwa, keadaan dan kesiapan. Oleh karena itu guru harus mengajarkan materi pelajaran kepada murid dengan memperhatikan perkembangan jiwanya dan memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak didik.[1]
2.      Diantara kelompok murid akan ada yang lebih cepat memahami keterangan guru, ada yang sedang dan ada yang lambat dalam pemahaman. Menurut Wasty Soemanto, masing-masing individu adalah unik, maka daya ingatan masing-masing anak didikpun berbeda-beda, dan pendidik hendaknya menyadari hal ini dengan penerapan metode belajar-mengajar yang tepat, pembagian waktu belajar yang tepat dan kondisi belajar yang menunjang.[2]
3.      Perolehan hasil belajar yang dicapai oleh murid akan mengalami perbedaan dikarenakan perbedaan kemampuan, minat dan kesiapannya.
4.      Ilmu yang telah diperoleh oleh penuntut ilmu hendaknya diamalkan untuk dirinya sendiri,  lalu diajarkan kepada orang lain. Karena -menurut Ibnu Ruslan- setiap orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya, ia akan disiksa lebih dulu sebelum para penyembah berhala disiksa.[3]
5.      Pendidikan dan lingkungan merupakan dua hal yang bisa saling mempengaruhi. Yaitu : lingkungan dapat mempengaruhi pendidikan[4] dan pendidikan juga dapat mempengaruhi lingkungan. Lingkungan yang baik akan menghasilkan pendidikan yang baik dan lingkungan yang buruk akan menghasilkan pendidikan yang buruk pula. Dan pendidikan yang baik akan menjadikan lingkungan yang baik dan pendidikan yang buruk akan menjadikan lingkungan yang buruk pula.

 2- الحديث 51

فى حسن الخلق

HADITS 51

Menerangkan Budi Pekerti Yang Baik


عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ : "إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا" وفى رواية : "إِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا" رواه البخاري.

a. Terjemah :

Dari Abdullah bin Amr ra., bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda : “Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” di dalam sebuah riwayat dikatakan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” (HR. Bukhori).

b. Penjelasan :
Dalam Hadits ini Rasulullah SAW. menjelaskan, bahwa orang Islam yang paling baik adalah orang Islam yang baik budi pekertinya dan terpuji sifatnya. Adapun orang yang buruk budi pekertinya dan jelek sifatnya adalah orang yang jelek, meskipun mereka mendirikan shalat, berpuasa dan berhaji karena shalat mereka tidak dilakukan dengan khusyu’, puasa dan haji mereke dilakukan dengan riya’. Seandainya mereka ikhlas maka tidak bisa menjaga kemuliaan budi pekerti.      

c. Inspirasi Pendidikan :
Dalam hadist 51 tersebut dapat diambil inspirasi pendidikan sebabagi berikut :
1.      Dalam pembelajaran hendaknya mengutamakan pendidikan akhlak dan moral, disamping sains dan skill, sehingga dapat mencetak muslim yang berkepribadian Islam yang meletakkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan di atas segalanya. Sehingga terwujud generasi Islam yang Qowiyyun Amin. Generasi yang qowiyyun  artinya : generasi yang mempunyai kekuatan, potensi, kemampuan, keterampilan, intelektual dan profesional. Sedangkan generasi yang Amiin artinya : generasi yang dapat dipercaya, sanggup mengemban amanat dan melaksanakannya dengan jujur dan adil.[5]
2.      Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu saja tetapi juga memperhatikan aspek nilai yang terdapat dalam pelajaran dengan memperhatikan tiga aspek kognitif, psikomotor dan afektif, sehingga siswa dapat mengejawantahkan nilai-nalai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Fungsi belajar adalah untuk merubah dan meluruskan sikap dan tingkah laku agar menjadi baik sesuai dengan ajaran Islam dan akhlak yang mulia. Oleh karena itu proses belajar mengajar hendaknya diarahkan pada at-tahdzib, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada aspek perbaikan moral atau penghilangan sifat buruk.[6]









DAFTAR PUSTAKA


  1. Ibnu Ruslan, Ahmad, Matn Azzubad, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Nabhan, tt .
  2. Mahfudh, Sahal, KH.MA.  Pendidikan Islam dan Pengembangan Kepribadian Muslim, (dalam Buletin Berkala Amanat Edisi I), Kajen Pati, HSM PIM,  2004.
  3. Satmoko dkk, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990.
  4. Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990.
  5. Rahman, Musthofa, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Paradigma Pendidikan Islam, Editor Ismail SM dkk, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001.







[1] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990, hlm.3.
[2] Ibid. hlm. 29.
[3] Ahmad Ibnu Ruslan, Matn Azzubad, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Nabhan, tt. hlm. 4.
[4] Satmoko dkk, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990, hlm.11.
[5] KH.MA. Sahal Mahfudh, Pendidikan Islam dan Pengembangan Kepribadian Muslim, (dalam Buletin Berkala Amanat Edisi I), Kajen Pati, HSM PIM,  2004, hlm. 21.
[6] Musthofa Rahman, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Paradigma Pendidikan Islam, Editor Ismail SM dkk, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 64.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar