Sabtu, 08 Januari 2011

Hadits ttg Akuntabilitas Pendidikan


Akuntabilitas Pendidikan

 1- الحديث 8

أثر العلم فى النفوس و اختلافه باختلافها

HADITS 8

Pengaruh Ilmu Dalam Jiwa

Dan Perbedaannya Oleh Perbedaan Jiwa


عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ, فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَ الْعَشْبَ الْكَثِيْرَ, وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ – وَفِى رِوَايَةٍ إِخَاذَاتٌ – أَمْسَكَتِ الْمَاءَ, فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ, فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعَوْا - وَفِى رِوَايَةٍ وَرَعَوْا - وَ أَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى, إِنََمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً, فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ, وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ, فَعَلِمَهُ وَعَلَّمَهُ, وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا, وَلَمْ يقْبَلْ هُدَى اللهِ الّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ" رواه البخاري ومسلم والنسأئى.
I. Terjemah :

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra. dari Rasulullah SAW. telah bersabda : “Perumpamaan Allah SWT. mengutus saya dengan membawa petunjuk dan ilmu  adalah bagaikan hujan deras yang menyirami bumi, kemudian diantara bumi itu ada yang subur yang bisa menyerap air, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Dan ada yang tandus –didalam satu riwayat dikatakan  tanah yang padat- yang tidak bisa menyerap air. Kemudian Allah menjadikan air hujan itu bermanfaat bagi manusia untuk minum, menyiram tanaman dan bercocok tanam –di dalam satu riwayat dikatakan untuk mengembala-. Dan juga menyirami bagian bumi yang lain, yaitu lembah yang tidak menahan air (dapat menyerap air) tetapi tidak dapat menumbuhkan rumput.  Yang seperti itu adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bermanfaat baginya terutusnya saya (ajaran saya), kemudian ia mengerti dan mengajarkannya kepada orang lain. Dan perumpamaan orang yang tidak memperhatikan  dan tidak menerima petunjuk Allah yang telah saya bawa”. (HR. Bukhori, Muslim dan An-Nasa’i).

II. Syarah :
Hadits tersebut di atas dapat saya jelaskan sebagai berikut :  Bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW. dengan membawa Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia untuk menuju jalan yang benar dan kebaikan, dan sebagai petunjuk, ilmu dan penerang terhadap berbagai kenyataan dan hukum-hukum. Namun manusia tidak menerima semuanya atas petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, tetapi mereka mempunyai reaksi yang  berbeda-beda terhadapnya dikarenakan perbedaan jiwa dan dan perbedaan kesiapan mereka. Dari perbedaan tersebut terdapat 3 (tiga kelompok/golongan), yaitu :
1.      Golongan pertama ialah  golongan orang yang suci dan jernih jiwanya,  yang tidak ternoda oleh dosa-dosa. Golongan ini ketika mendengar wahyu disampaikan, akan bersungguh-sungguh memperhatikan, berusaha memahami, merenungkan dan menghafalkannya. Sehingga wahyu tersebut tertanam di dalam jiwa dan hatinya yang suci, kemudian diamalkan dan disebarluaskan kepada orang lain. Golongan ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang subur, ketika tersiram air hujan dapat menyerap air dan kemudian menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak, yang dapat dimakan oleh binatang dan dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan dapat menumbuhkan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan sebagai harta yang bermanfaat bagi manusia.
2.      Golongan kedua ialah golongan orang-orang yang tidak suci dan rusak jiwanya, serta mati perasaannya.  Golongan  ini ketika mendengar wahyu disampakan akan berpaling dan tidak mau mendengarkan dengan sombong seolah-olah telinga mereka tertutup, sehingga mereka tidak mau menerima petunjuk. Golongan ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air dan tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput, apalagi buah-buahan. Air yang mengalirinya tidak bermanfaat sama sekali baginya, sehingga dimanfaatkan oleh binatang dan manusia untuk minum atau diserap oleh bagian bumi yang lain yang subur.
3.      Golongan ketiga adalah golongan konvergensi, yaitu golongan tengah-tengah diantara dua kelompok pertama dan kedua. Golongan ini adalah golongan orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengangan-angan dan memahaminya, serta mengetahui hukum-hukum yang diterangkan oleh Al-Qur’an, mengetahui halal dan haram, namun mereka sendiri tidak mengamalkan, tetapi mengajak dan mengajarkan kepada orang lain. Golongan ini diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air, lalu airnya diminum oleh manusia dan binatang dan diserap oleh bumi yang subur lainnya yang dapat menumbuhkan biji dengan baik sampai berbuah dan di makan oleh manusia dan binatang, maka bumi yang tandus tadi bermanfaat tetapi tidak dapat mengambil manfaat.

III. Inspirasi Pendidikan :
Inspirasi pendidikan yang bisa diambil dari Hadits  tersebut adalah :
1.      Kelompok murid dalam belajar mempunyai perbedaan dalam menerima pelajaran, ada yang lebih cepat memahami, ada yang sedang dan ada yang lambat dalam pemahaman, sebab mereka mempunyai perbedaan kejiwaan.
2.      Hasil belajar yang diperoleh murid akan mengalami perbedaan karena perbedaan jiwa, lingkungan, dan kemauan.
3.      Lingkungan sangat menentukan dalam keberhasilan pendidikan, Lingkungan yang baik akan menghasilkan pendidikan yang baik dan lingkungan yang buruk akan menghasilkan pendidikan yang buruk pula[1].
4.      Mengingat perbedaan yang ada pada murid, maka guru harus mengajarkan materi pelajaran kepada murid dengan memperhatikan perkembangan jiwanya dan memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan.[2]





 2- الحديث 51

فى حسن الخلق

HADITS 51

Akhlak Mulia


عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ : "إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا" وفى رواية : "إِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا" رواه البخاري.
I. Terjemah :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra., bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda : “Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” di dalam sebuah riwayat dikatakan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” (HR. Bukhori).

II. Syarah :
Menurut Hadits tersebut, Rasulullah SAW. menjelaskan, bahwa orang Islam yang paling baik adalah orang Islam yang baik akhlak (budi pekerti)nya dan terpuji sifatnya. Adapun orang yang buruk akhlak (budi pekerti)nya dan jelek sifatnya adalah orang yang jelek, meskipun mereka mendirikan shalat, berpuasa dan berhaji karena shalat mereka tidak dilakukan dengan khusyu’, puasa dan haji mereke dilakukan dengan riya’. Seandainya mereka ikhlas maka tidak bisa menjaga kemuliaan budi pekerti.           

III. Inspirasi Pendidikan :
Dalam hadist tersebut dapat diambil inspirasi pendidikan sebabagi berikut :
1.      Orang yang baik bukanlah orang yang berpendidikan, tetapi orang yang baik adalah orang yang berbudi pekerti mulia. Maka seharusnya pendidikan mengutamakan aspek budi pekerti (akhlak).
2.      Dalam pembelajaran hendaknya mengarahkan kepada anak didik agar menjadi insan kamil, yaitu manusia yang memiliki kualitas iman ilmu, iman yang baik, serta akhlak mulia sehingga keberadaannya sesalu dibutuhkan oleh umat lain.[3] Dan yang lebih utama agar mereka tidak menjadi sampah masyarakat.
3.      Guru hendaknya menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya dalam menanamkan akhlak yang mulia. Karena  ada pepatah ”Guru kencing berdiri murid kencing berlari”[4]  

DAFTAR PUSTAKA


  1. Jaswo, Kedisiplinan Guru Dalam Memotivasi Belajar Siswa, Makalah disampaikan dalam Diskusi Guru MMF, Tgl. 10 Juni 2005.
  2. Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990.
  3. Tim Pengembangan MKDH IKIP Semarang, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990
  4. Thoha, Chabib,  Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta, Oustaka Pelajar, 1996.







[1] Tim Pengembangan MKDH IKIP Semarang, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990, hlm.11.
[2] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990, hlm.3.
[3] Chabib Thoha,  Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta, Oustaka Pelajar, 1996, hlm. 11.
[4] Jaswo, Kedisiplinan Guru Dalam Memotivasi Belajar Siswa, Makalah disampaikan dalam Diskusi Guru MMF, Tgl. 10 Juni 2005.

Hadits Tentang Akuntabilitas Pendidikan


Hadits Tentang Akuntabilitas Pendidikan

 1- الحديث 8

أثر العلم فى النفوس و اختلافه باختلافها

HADITS 8

Pengaruh Ilmu di Dalam Jiwa

Dan Perbedaannya dengan perbedaan Jiwa

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ, فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَ الْعَشْبَ الْكَثِيْرَ, وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ – وَفِى رِوَايَةٍ إِخَاذَاتٌ – أَمْسَكَتِ الْمَاءَ, فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ, فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعَوْا - وَفِى رِوَايَةٍ وَرَعَوْا - وَ أَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى, إِنََمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً, فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ, وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ, فَعَلِمَهُ وَعَلَّمَهُ, وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا, وَلَمْ يقْبَلْ هُدَى اللهِ الّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ" رواه البخاري ومسلم والنسأئى.
a. Terjemah :

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra. dari Rasulullah SAW. telah bersabda : “Perumpamaan Allah SWT. mengutus saya dengan membawa petunjuk dan ilmu  adalah bagaikan hujan deras yang menyirami bumi, kemudian diantara bumi itu ada yang subur yang bisa menyerap air, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Dan ada yang tandus –didalam satu riwayat dikatakan  tanah yang padat- yang tidak bisa menyerap air. Kemudian Allah menjadikan air hujan itu bermanfaat bagi manusia untuk minum, menyiram tanaman dan bercocok tanam –di dalam satu riwayat dikatakan untuk mengembala-. Dan juga menyirami bagian bumi yang lain, yaitu lembah yang tidak menahan air (dapat menyerap air) tetapi tidak dapat menumbuhkan rumput.  Yang seperti itu adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bermanfaat baginya terutusnya saya (ajaran saya), kemudian ia mengerti dan mengajarkannya kepada orang lain. Dan perumpamaan orang yang tidak memperhatikan  dan tidak menerima petunjuk Allah yang telah saya bawa”. (HR. Bukhori, Muslim dan An-Nasa’i).

b. Penjelasan :

Allah mengutus Nabi Muhammad SAW. dengan membawa Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia untuk menuju jalan yang benar dan kebaikan, dan sebagai petunjuk, ilmu dan penerang terhadap berbagai kenyataan dan hukum-hukum. Namun manusia tidak menerima semuanya atas petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, tetapi mereka mempunyai reaksi yang  berbeda-beda terhadapnya dikarenakan perbedaan jiwa dan dan perbedaan kesiapan mereka. Dari perbedaan tersebut terdapat 3 (tiga kelompok/golongan), yaitu :
1.      Kelompok orang yang bersih dan jernih jiwanya,  yang tidak ternoda oleh dosa-dosa. Mereka inilah ketika mendengar wahyu disampaikan, akan bersungguh-sungguh memperhatikan, berusaha memahami, merenungkan dan menghafalkannya. Sehingga wahyu tersebut tertanam di dalam jiwa dan hatinya yang suci, kemudian diamalkan dan disebarluaskan kepada orang lain. Kelompok ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang subur, ketika tersiram air hujan dapat menyerap air dan kemudian menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak, yang dapat dimakan oleh binatang dan dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan dapat menumbuhkan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan sebagai harta yang bermanfaat bagi manusia.
2.      Kelompok orang-orang yang kotor dan rusak jiwanya dan mati perasaannya.  Mereka inilah ketika mendengar wahyu disampakan akan berpaling dan tidak mau mendengarkan dengan sombong seolah-olah telinga mereka tertutup, sehingga mereka tidak mau menerima petunjuk. Kelompok ini oleh Nabi diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air dan tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan, apalagi buah-buahan. Air yang mengalir padanya tidak bermanfaat sama sekali baginya, sehingga dimanfaatkan oleh binatang dan manusia untuk minum atau diserap oleh bagian bumi yang lain yang subur.
3.      Kelompok tengah-tengah diantara dua kelompok pertama dan kedua. Mereka ini adalah orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengangan-angan dan memahaminya, serta mengetahui hukum-hukum yang diterangkan oleh Al-Qur’an, mengetahui halal dan haram, namun mereka sendiri tidak mengamalkan, tetapi mengajak dan mengajarkan kepada orang lain. Mereka ini diumpamakan seperti bumi yang tandus yang tidak bisa menyerap air, lalu airnya diminum oleh manusia dan binatang dan diserap oleh bumi yang subur lainnya yang dapat menumbuhkan biji dengan baik sampai berbuah dan di makan oleh manusia dan binatang, maka bumi yang tandus tadi bermanfaat tetapi tidak dapat mengambil manfaat.

c. Inspirasi Pendidikan :

Inspirasi pendidikan yang bisa diambil dari Hadits 8 tersebut adalah :
1.      Guru dalam menyampaikan materi pelajaran harus memperhatikan keadaan murid, karena murid adalah manusia yang mempunyai perbedaan jiwa, keadaan dan kesiapan. Oleh karena itu guru harus mengajarkan materi pelajaran kepada murid dengan memperhatikan perkembangan jiwanya dan memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak didik.[1]
2.      Diantara kelompok murid akan ada yang lebih cepat memahami keterangan guru, ada yang sedang dan ada yang lambat dalam pemahaman. Menurut Wasty Soemanto, masing-masing individu adalah unik, maka daya ingatan masing-masing anak didikpun berbeda-beda, dan pendidik hendaknya menyadari hal ini dengan penerapan metode belajar-mengajar yang tepat, pembagian waktu belajar yang tepat dan kondisi belajar yang menunjang.[2]
3.      Perolehan hasil belajar yang dicapai oleh murid akan mengalami perbedaan dikarenakan perbedaan kemampuan, minat dan kesiapannya.
4.      Ilmu yang telah diperoleh oleh penuntut ilmu hendaknya diamalkan untuk dirinya sendiri,  lalu diajarkan kepada orang lain. Karena -menurut Ibnu Ruslan- setiap orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya, ia akan disiksa lebih dulu sebelum para penyembah berhala disiksa.[3]
5.      Pendidikan dan lingkungan merupakan dua hal yang bisa saling mempengaruhi. Yaitu : lingkungan dapat mempengaruhi pendidikan[4] dan pendidikan juga dapat mempengaruhi lingkungan. Lingkungan yang baik akan menghasilkan pendidikan yang baik dan lingkungan yang buruk akan menghasilkan pendidikan yang buruk pula. Dan pendidikan yang baik akan menjadikan lingkungan yang baik dan pendidikan yang buruk akan menjadikan lingkungan yang buruk pula.

 2- الحديث 51

فى حسن الخلق

HADITS 51

Menerangkan Budi Pekerti Yang Baik


عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ : "إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا" وفى رواية : "إِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا" رواه البخاري.

a. Terjemah :

Dari Abdullah bin Amr ra., bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda : “Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” di dalam sebuah riwayat dikatakan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik budi pekertinya” (HR. Bukhori).

b. Penjelasan :
Dalam Hadits ini Rasulullah SAW. menjelaskan, bahwa orang Islam yang paling baik adalah orang Islam yang baik budi pekertinya dan terpuji sifatnya. Adapun orang yang buruk budi pekertinya dan jelek sifatnya adalah orang yang jelek, meskipun mereka mendirikan shalat, berpuasa dan berhaji karena shalat mereka tidak dilakukan dengan khusyu’, puasa dan haji mereke dilakukan dengan riya’. Seandainya mereka ikhlas maka tidak bisa menjaga kemuliaan budi pekerti.      

c. Inspirasi Pendidikan :
Dalam hadist 51 tersebut dapat diambil inspirasi pendidikan sebabagi berikut :
1.      Dalam pembelajaran hendaknya mengutamakan pendidikan akhlak dan moral, disamping sains dan skill, sehingga dapat mencetak muslim yang berkepribadian Islam yang meletakkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan di atas segalanya. Sehingga terwujud generasi Islam yang Qowiyyun Amin. Generasi yang qowiyyun  artinya : generasi yang mempunyai kekuatan, potensi, kemampuan, keterampilan, intelektual dan profesional. Sedangkan generasi yang Amiin artinya : generasi yang dapat dipercaya, sanggup mengemban amanat dan melaksanakannya dengan jujur dan adil.[5]
2.      Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu saja tetapi juga memperhatikan aspek nilai yang terdapat dalam pelajaran dengan memperhatikan tiga aspek kognitif, psikomotor dan afektif, sehingga siswa dapat mengejawantahkan nilai-nalai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Fungsi belajar adalah untuk merubah dan meluruskan sikap dan tingkah laku agar menjadi baik sesuai dengan ajaran Islam dan akhlak yang mulia. Oleh karena itu proses belajar mengajar hendaknya diarahkan pada at-tahdzib, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada aspek perbaikan moral atau penghilangan sifat buruk.[6]









DAFTAR PUSTAKA


  1. Ibnu Ruslan, Ahmad, Matn Azzubad, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Nabhan, tt .
  2. Mahfudh, Sahal, KH.MA.  Pendidikan Islam dan Pengembangan Kepribadian Muslim, (dalam Buletin Berkala Amanat Edisi I), Kajen Pati, HSM PIM,  2004.
  3. Satmoko dkk, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990.
  4. Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990.
  5. Rahman, Musthofa, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Paradigma Pendidikan Islam, Editor Ismail SM dkk, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001.







[1] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-3, 1990, hlm.3.
[2] Ibid. hlm. 29.
[3] Ahmad Ibnu Ruslan, Matn Azzubad, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Nabhan, tt. hlm. 4.
[4] Satmoko dkk, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Press, 1990, hlm.11.
[5] KH.MA. Sahal Mahfudh, Pendidikan Islam dan Pengembangan Kepribadian Muslim, (dalam Buletin Berkala Amanat Edisi I), Kajen Pati, HSM PIM,  2004, hlm. 21.
[6] Musthofa Rahman, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Paradigma Pendidikan Islam, Editor Ismail SM dkk, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 64.

FENOMENA “PONDOK ALA KOS” DAN “KOS ALA PONDOK”

FENOMENA “PONDOK ALA KOS”
DAN “KOS ALA PONDOK”


Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang mempunyai sejarah historis dalam pengembangan ilmu-ilmu Islam, sehingga pondok pesantren ini layak jika kemudian disebut sebagai lembaga “Tafaqquh Fiddiin”.
Tempo dulu, pondok pesantren ini dikenal oleh para santri-santrinya sebagai “penjara suci” karena kehidupan para santri di kala itu bagaikan hidup dalam penjara dengan peraturan dan kedisiplinan yang cukup ketat. Kehidupan para santri pada tempo dulu penuh dengan kesederhanaan, sehingga para santri tampak kurus dan banyak tirakat. Santri tempo dulu makan hanya dua kali sehari, itupun dengan jerih payah memasak sendiri dan dikepung rame-rame satu tapsi tujuh orang. Tak ada lauk-pauk dalam makan siang ataupun makan sore, yang ada hanyalah sambal terong. Dan tak ada minum air putih atau es the layaknya santri sekarang, yang ada hanyalah air kran yang dimasukkan di periuk (kendil) bekas liwet, lalu diminum rame-rame.
Pesantren sekarang tampaknya telah mengalami perubahan drastis bagi kehidupan para santri. Pesantren sekarang tampaknya sebagai salah satu tempat untuk memanjakan diri bagi sebagian santri. Sehingga pondok tak lebih dari sekedar tempat kos dan penitipan anak atau yang dikenal dengan “pondok ala kos”. Maklum, bila sekarang para santri tampak gemuk dan tak ada gudig (kudis) karena kehidupan dan gizi mereka terjamin. Pondok ala kos seperti inilah yang lebih diminati oleh para santri di masa kini dari pada pondok yang lebih ketat dan banyak aturan.
Peraturan pondok yang ketat akan membuat para santri tidak kerasan dan kabur menuju “kos ala pondok”. Kos ala pondok ini sekarang banyak bermunculan dan banyak diminati oleh para santri dan siswa madrasah. Pertimbangan kos ala pondok adalah karena tidak begitu rumit dan memudahkan semua urusan. Dari urusan tata tertib, pulang kampung, keluar malam sampai kebebasan pergaulan.  Kalau di pondok resmi selalu diawasi dengan berbagai peraturan, namun di pondok ala kos ini lebih enak dan tampak lebih nyaman dan, bahkan lebih bebas dari pada di rumah sendiri, karena lepas dari pengawasan orang tua.


Maaf tidak menerima komentar

Metodologi Pembelajaran dalam QS. Al-Alaq 1-5


KAJIAN AL-QUR’AN
SURAT AL-ALAQ AYAT 1-5
TENTANG  METODOLOGI PEMBELAJARA
Oleh : Ustadz Jaswo

A.     Prinsip-prinsip pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Prinsip-prinsip pembelajaran dalam Al-Qur'an Surat Al-'Alaq Ayat 1 – 5 adalah :
1.   Ikhlas
Prinsip ikhlas dapat terlihat dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1. Tuhan memerintahkan membaca atas nama Allah.
2.   Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan seumur hidup tergambar secara implisit dalam Surat Al-'Alaq, yaitu tidak adanya batasan yang kongkret tentang kapan seseorang harus memulai belajar dan sampai kapan. Tuhan hanya menjelaskan bahwa manusia harus membaca dan belajar. Dengan demikian, manusia perlu belajar sampai ajalnya tiba.
  1. Efektivitas Pendidikan
Di dalam Surat Al-'Alaq, Tuhan menginformasikan asal kejadian manusia dari 'alaq dan setelah diajari, mereka memperoleh ilmu pengetahuan. [1]
4.   Pengulangan
Di dalam surat Al-'Alaq Ayat 1 – 5 terdapat lafadl اقرأ (Bacalah) lebih dari satu kali. Di sini mengandung prinsip, bahwa diantara prinsip pembelajaran adalah dengan menggunakan pengulangan. Untuk mempelajari materi sampai pada taraf insight siswa perlu membaca, berfikir, mengingat dan yang tidak kalah penting adalah latihan. Dengan latihan berarti siswa mengulang-ulang materi yang dipelajari sehingga materi tesebut makin mudah diingat. Dengan pengulangan, tanggapan tentang materi makin segar dalam pikiran siswa, sehingga makin mudah direproduksi.[2]

B.     Jenis-jenis metode pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Jenis-jenis metode yang dapat diambil dari Surat Al-Alaq Ayat 1-5 adalah :
1.   Pembiasaan dan pengamalan
Pembiasaan dan pengamalan merupakan salah satu metode yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an. Latihan dan ulangan yang merupakan metode praktis untuk menghafalkan sesuatu ajaran termasuk di dalam metode ini. Di dalam Surat Al-'Alaq metode ini disebut secara implisit, yakni cara turunnya wahyu pertama (ayat 1-5). Jibril menyuruh Nabi mengucapkan kata اقرأ (bacalah) dan Nabi menjawab ما أنا بقارئ (Saya tidak bisa membaca), lalu Jibril mengulanginya lagi dan Nabi menjawab dengan perkataan yang sama. Hal ini terulang sampai tiga kali. Kemudian Jibril membacakan ayat 1-5 dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi apa yang disampaikan Jibril tersebut. Metode pembiasaan dan pengulangan yang digunakan Allah dalam mengajar Rasul-Nya amat efektif sehingga apa yang disampaikan kepadanya langsung tertanam dengan kuat di dalam kalbunya.
Inti pembiasaan sebenarnya adalah pengulangan terhadap segala sesuatu yang dilaksanakan atau yang diucapkan oleh seseorang. Hampir semua ahli pendidikan sepakat untuk membenarkan pembiasaan sebagai salah satu upaya pendidikan. Pembiasaan merupakan teknik pendidikan yang jitu, walaupun ada kritik terhadap metode ini karena cara ini tidak mendidik siswa untuk menyadari dengan analisis apa yang dilakukan. Oleh karena itu pembiasaan harus mengarah kepada kebiasaan yang baik.[3]
Perintah membaca dalam Surat Al-'Alaq  ayat 1-5, yang diulang sampai dua kali, yaitu pada ayat pertama dan ketiga dapat memberikan indikasi bahwa metode pembiasaan dalam pendidikan sangat diperlukan dalam pembelajaran pendidikan Islam.
2.   Metode Mauidzah.
Metode Mauidzah adalah pemberitahuan seseorang tentang sesuatu yang baik agar dia dapat melakukannya dan yang jahat agar dia tidak melakukannya. Termasuk mau'idzah adalah nasihat, peringatan, teguran perintah. Dengan ungkapan lain, mau'idzah dapat disebut juga al-amr bil-ma'ruf wan nahyu 'anil munkar. Mau'idzah atau al-amr bil-ma'ruf wan nahyu 'anil munkar merupakan salah satu metode yang dianjurkan oleh Allah.
Dalam Surat Al-'Alaq  ayat 1-5 ini merupakan ayat yang memerintahkan pada ilmu pengetahuan kepada manusia dengan cara memberi nasehat berupa perintah untuk membaca.

C.     Unsur-unsur pendidikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Unsur-unsur pendidikan yang ada dalam Surat Al-'Alaq ayat 1 – 5 adalah :
1)   Pendidik
Pendidikan ialah orang yang mendidik yang melaksanakan tugas mendidik atau orang yang memebrikan pendidikan dan pengajaran, baik secara formal maupun non formal. Dalam ayat 4 Surat Al-'Alaq dijelaskan bahwa Dia (Allah) yang mengajar menulis dengan mengunakan qalam. Pada ayat ini Tuhan belum menjelaskan siapa yang diajari-Nya. Pada ayat 5 Dia menjelaskan bahwa yang diajarinya adalah manusia.
Disini terlihat jelas bahwa pendidik pertama dan utama adalah Allah SWT. Allah lah yang megajari manusia sehingga mereka dapat memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, mereka terangkat dari kegelapan dan kebodohan kepada cahaya pengetahuan yang terang benderang.[4]
Ayat 4 dan 5 dari Surat Al-'Alaq ini mengisyaratkan bahwa Allah adalah pendidik atau pengajar pertama dan utama. Allah bukan hanya pendidik manusia tetapi pendidik seluruh alam. Oleh karena itu, Dia dijuluki rahmatan lil'alamiin.
Kalau Allah sebagai pendidik sejati, maka manusia bertugas sebagai pelaksana mewakili Tuhan. Jadi, boleh dikatakan Allah mendelegasikan sebagian tugas mengajar dan mendidik hamba-Nya kepada para pendidik yang mula-mula di dilakukan oleh   para Rasul, kemudian dilanjutkan oleh para pengikutnya, ulama', guru dan seterusnya.
2)   Peserta Didik
Dalam Surat Al-'Alaq terdapat unsur peserta didik, yang dinyatakan secara eksplisit lafal الإٍنْسَانُ di dalam ayat ke-5. Penyebutan lafal الإٍنْسَانُ secara tegas berfungsi sebagai obyek dari pembelajaran memberikan indikasi bahwa peserta didik harus jelas dan nyata. Dengan begitu, proses belajar-mengajar akan dapat terlaksana dengan baik dan efisien, sebaliknya jika peserta didiknya tidak jelas, maka proses belajar-mengajar akan terganggu dan sukar sekali mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kata  الإٍنْسَانُ yang berperan sebagai peserta didik di dalam ayat itu mencakup makna yang amat luas. Artinya, peserta didik yang ingin diajar atau dididik oleh Al-Qur'an tidak tertuju pada suatu kelompok tertentu, tetapi umum, kepada siapa saja yang berpredikat manusia, tidak peduli kaum konglomerat atau melarat, pejabat tinggi atau pegawai rendah, dan para ningrat atau orang biasa. Tidak ada pula perbedaan dari segi umur, tua, muda dan sebagainya. Al-Qur'an tidak membedakan peserta didik dari sudut ras, keturunan, kekayaan atau umur.[5]
Pembelajaran yang dimaksud dalam Surat Al-'Alaq adalah pendidikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang membutuhkan penalaran dan pemikiran rasional karena akan digunakan untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran hidup dan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, hanya manusia yang disebut Allah sebagai peserta didik di dalam ayat ini, bukan makhluk lain.
3)   Tujuan Pembelajaran
Perlu penulis jelaskan terlebih dahulu, bahwa yang dimaksud dengan tujuan di sini ialah tujuan akhir dari semua aktivitas pembelajaran, bukan target dari pengajaran suatu materi kurikulum. Target semacam itu tidak perlu ditegaskan di dalam Al-Qur'an, tetapi cukup diatur oleh manusia sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Telah diungkapkan pada bagian terdahulu, bahwa perintah membaca pada ayat pertama Surat Al-'Alaq ini langsung diikuti dengan menyebut nama Allat SWT, bukan nama yang lain. Pola susunan seperti ini memberikan isyarat bahwa tujuan belajar (menuntut ilmu pengetahuan) itu hanya semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, bukan yang lain. Semua pekerjaan yang dimulai dengan niat ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah semata merupakan ibadah yang tak ternilai harganya. Jika demikian, maka tujuan pembelajaran yang dicanangkan dalam ayat ini adalah beribadah, yaitu mengabdikan jiwa raga semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan demikian, tujuan pembelajaran di sini adalah menyiapkan manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. Apa pun materi yang diajarkan dan cara apapun yang ditempuh untuk mengajarkannya, tujuannya hanya satu, yaitu untuk mengharapkan ridha Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
4)   Materi Pembelajaran
Materi-materi pembelajaran yang terkandung dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1-5 adalah :
a. Membaca, sebagai materi pertama yang disebutkan dalam Surat Al-'Alaq. Meskipun surat ini tidak menegaskan urutan materi pendidikan, namun dengan dicantumkannya "membaca" pada urutan pertama tergambar bahwa materi tersebut harus pertama kali diberikan kepada peserta didik sebelum mengajrkan yang lainnya.
b.   Menulis, sebagai pelajaran yang tidak kurang pentingnya dari membaca. Hal ini ditegaskan dalam ayat ke-4 dari Surat Al-'Alaq, bahwa Allah mengajar menulis kepada manusia dengan menggunakan qalam, yaitu alat tulis yang pertama kali dikenal dalam dunia pendidikan. Menulis merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Setelah ditulis, pengetahuan tersebut dapat diwarisi oleh generasi berikutnya sehingga generasi selanjutnya dapat meneruskan dan mengembangkan lebih jauh ilmu-ilmu yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya. Jadi, membaca dan menulis merupakan dua hal yang sangat urgen dalam pendidikan guna memperoleh ilmu pengetahuan dan memajukan peradaban umat manusia di muka bumi ini.
c.   Biologi, sebagai materi ketiga yang diungkapkan dalam wahyu yang pertama turun, yaitu tentang penciptaan manusia secara fisik yang bermula dari al-'alaq. Ilmu yang mempelajari manusia dari sudut fisiknya disebut dengan ilmu biologi. Walaupun Surat Al-'Alaq tidak menyebut secara eksplisit istilah pendidikan biologi, tidak salah jika penafsiran ayat itu dilihat dari sudut pendidikan biologi. Dengan perkataan lain, wahyu yang pertama ini mengajak umat manusia agar merenungkan sejenak asal-usul kejadian mereka dari sudut biologis agar mereka mau menyadari kondisi dan hakikat diri mereka yang sebenarnya.
5)   Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang terkandung di dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1-5 terdapat dua metode, sebagaimana penulis jelaskan pada bahasan sebelumnya, yaitu metode (1) pembiasaan dan pengamalan dan (2) metode mau'idzah.
6)   Alat Pembelajaran
Pena merupakan sarana untuk memperoleh dan mewarisi ilmu pengatahuan. Dengan pena, ilmu pengetahuan akan ditulis lalu dibaca oleh generasi sekarang dan yang akan datang sehingga informasi tersebut menjadi berkembang dan dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

D.     Relevansi metodologi pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq Ayat 1-5 dengan metodologi pembelajaran Pendidikan Islam.
Metodologi pembelajaran pendidikan Islam mempunyai tugas dan fungsi memberikan jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan Islam. Pelaksanaannya berada dalam ruang lingkup proses kependidikan yang berada dalam suatu sistem dan struktur kelembagaan yang diciptakan untuk tujuan pendidikan Islam.
Metodologi pembelajaran pendidikan Islam dalam penerapannya banyak yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadits. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan Islam seharusnya berpedoman pada metodologi yang telah digariskan oleh Al-Qur'an dan Hadits.
Diantara metodologi yang ada di dalam Al-Qur'an adalah metode pembiasaan dan pengamalan serta metode mau'idzah yang terdapat dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1-5. Kedua metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran pendidikan Islam.
Para psikolog telah banyak membicarakan tentang teori belajar, antara lain sebagaimana yang telah dikemukakan oleh ahli skolastik, bahwa belajar adalah mengulang-ulang bahan yang akan dipelajari. Golongan kontra reformasi mengemukakan bahwa pokok atau induk belajar ialah "mengulangi". Ahli psikologi daya yang meninjau daya-daya yang dimiliki oleh jiwa mengatakan bahwa melatih jiwa sama dengan melatih jasmani, yaitu dengan melakukannya secara berulang-ulang.[6] Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar adalah pengulangan.
Jadi, metode pembiasaan dan pengamalan merupakan metode yang amat penting dan sangat relevan dengan kondisi psikologis manusia, dan sangat relevan dalam pembelajaran pendidikan Islam sampai kapanpun.
Sedangkan metode mau'idzah yang terdapat dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1-5 juga merupakan suatu metode yang amat penting dalam pembelajaran pendidikan Islam, sehingga metode ini diturunkan pada periode awal dari urutan turunnya ayat-ayat Al-Qur'an. Selain itu, mauidzah tidak hanya ditujukan kepada umatnya saja, tetapi Nabi pun diberi mau'idzah meskipun beliau sudah jelas tunduk dan patuh terhadap perintah Allah.
Dengan demikian, kedua metode yang tercantum dalam Surat Al-'Alaq Ayat 1-5, yaitu metode  pembiasaan dan pengamalan serta metode mau'idzah tetap sangat relevan untuk digunakan dalam pembelajaran pendidikan Islam.


[1] Erwati Aziz, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Solo, PT. Tiga Serangkai, 2003, hlm. 29.
[2] Max Darsono, dkk, Belajar dan Pembelajaran, Semarang, IKIP Press, 2000, hlm. 28.
[3] Lift Anis Ma'shumah, Pembinaan Kesadaran Beragama Pada Anak, dalam Isma'il SM, Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 224.
[4] Muhammad Ali Ash-Shobuniy, Shofwatut Tafasir Jilid 3, Bairut, Daarul Qur'anil Karim, tt, hlm. 582.

[5] Erwati Aziz, Op cit, hlm. 57.
[6] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995, hlm.264.

Cakupan Materi Pendidikan Islam dalam Al-Qur'an



Ruang Lingkup Materi Pendidikan Islam
dalam Al-Qur'an
Oleh : Ustadz Jaswo
Ilmu menurut Al-Qur’an mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan, baik fisika atau metafisika. Kalsifikasi ilmu ini ada dua kategori, yaitu :
1.      Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam Al-Qur’an dan Hadits, serta segala yang dapat diambil dari keduannya.
2.      Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk  sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif  dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antar  budaya selama tidak bertentangan dengan syari’ah sebagai sumber nilai.
Dari uraian di atas maka cakupan materi pendidikan Islam adalah meliputi :
1.       Bahan pelajaran PAI, yang meliputi tujuh unsur, yaitu :
a.       Keimanan, yang meliputi keyakinan dan kepercayaan terhadap Allah SWT., Tuhan semesta alam, sifat-sifat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, para malaikat-Nya, hari akhir, qadla dan qadar, serta hal-hal yang berhubungan dengan masalah keyakinan.
b.       Ibadah, yang meliputi tata cara pengabdian hamba kepada Allah SWT.
c.       Al-Qur’an, sebagai dasar hukum dan pedoman dalam kehidupan untuk menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
d.       Akhlak, yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan dan sifat-sifat terpuji yang harus digunakan untuk menghiasi diri, dan kerendahan-kerendahan serta sifat-sifat tercela yang harus diajauhi.
e.       Mu’amalah, yang mengatur hubungan antara sesama manusia dalam hal berdagang dan pergaulan sehari-hari.
f.         Syari’ah, yang meliputi hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan agama. 
g.       Tarikh, yang meliputi peristiwa-peristiwa masa lalu yang digunakan sebagai pelajaran dalam pelaksanaan agama.
2.       Ilmu-ilmu umum yang dibutuhkan dalam kehidupan dan dakwah Islam, yaitu : segala macam ilmu yang berguna, selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama adalah merupakan suatu kewajiban. Manusia sebagai khalifah di bumi mempunyai tugas mengelola bumi sebaik-baiknya, sedangkan untuk mengelola bumi dengan baik dibutuhkan  beberapa disiplin ilmu, karena disiplin ilmu merupakan sarana yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Dan sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya, sebagimana dijelaskan dalam kaidah :ما لا يؤدي الواجب إلا به فهو واجب   (kewajiban yang tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan adanya sesuatu hal, maka hal tersebut adalah wajib).
Semua ilmu-ilmu tersebut mempunyai ruang lingkup sebagai berikut :
1.       Hubungan manusia dengan Allah SWT., yang  lazim disebut sebagai ibadah.
2.       Hubungan manusia dengan sesama manusia, sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, oleh karena itu harus berhubungan dengan manusia lainnya.
3.       Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sebagai makhluk individu dan yang mempunyai tanggung jawab pribadi yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Setelah itu kemudian diperintahkan untuk memelihara diri orang lain terutama keluarganya, kemudian baru orang lain.
4.       Hubungan manusia dengan makhluk lain, sebagi ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi kepentingan manusia. Dan manusia diwajibkan sebagai pengelola (khalifah) dengan sebaik-baiknya.



Hilangnya Dikotomi Ilmu Dalam Islam


Hilangnya dikotomi ilmu dalam Islam
Oleh : Ustadz Jaswo
Di dalam agama Islam tidak dikenal perbedaan maupun pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan adalah bahwa dalam dunia fisik atau materi tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri. Dunia fisik, sebagaimana dunia yang lain (immateri), memperoleh eksistensinya dari dan terkait dengan Tuhan.  Pandangan ini mengacu kepada keyakinan Islam yang paling utama, yaitu tauhid. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Islam pada hakekatnya milik Allah dan manusia hanya mampu  menguasainya dengan terbatas. Sebagai hamba yang berada di alam nyata, manusia dapat memiliki pengetahuan disebabkan kekuatan nalar atau akal yang diberikan Allah kepadanya. Dengan demikian, terdapat hubungan antara pandangan  dunia tauhid dengan semangat keilmuan karena ilmu pengetahuan pada hakekatnya menjadi jembatan untuk mencapai kebenaran agama, yaitu tauhid. Dengan demikian, jelas bahwa Islam tidak membedakan antara ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum.
Sebaliknya, dalam pandangan Barat, ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia materi di mana untuk mencapai kebenaran dilakukan eksperiment dengan menggunkan logika dan pengalaman empiris. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan ini, adalah ciptaan manusia secara sadar yang berpangkal dari semangat mencari kebenaran dan objektivitas, penghormatan kepada bukti empiris dan pikiran kritis. Paradigma ini melahirkan pandangan bahwa agama hanya berkaitan dengan hal-yang yang bersifat rohani, sedangkan ilmu pengetahuan mengurus hal-hal yang bersifat materi.
Pandangan dikotomis ini merupakan produk filsafat Barat yang menafikan nilai-nilai spiritualitas dan mengagungkan materi (materialisme). Pandangan ini tidak saja bertentangan dengan dalil tauhid, tatapi juga bertentangan aksiomatik bahwa kebenaran itu bersifat relatif dalam dunia ilmu pengetahuan, tidak terkecuali  bidang eksakta seperti matematika dan fisika.
Islam bukan hanya semata-mata agama dalam pengertian terbatas, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menolak pemisahan antara agama dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Bagi Islam antara agama dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan (integral). 
Memandang dampak dan implikasi negatif dikotomi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, maka sudah waktunya bagi kaum  muslim –khususnya lembaga-lembaga Islam- untuk melakukan “reintegrasi ilmu-ilmu”, Dalam kerangka ini, ilmu-ilmu dipandang sebagai suatu kesatuan, yang setara hierarkhinya, yang dari perspektif Islam, sama-sama mendapat pahala jika menuntut dan menekuninya.
Namun, meskipun Islam mengajarkan integralisme keilmuan pada tingkat konseptual, tetapi harus diakui bahwa pada tingkat praktis tidak jarang terjadi disharmoni, dan dikotomi di antara keduannya. Hal ini terjadi diantaranya karena pengaruh Barat, yang menyudutkan kaum muslimin ke satu sudut pandang yang menitik beratkan pada kehidupan ukhrawi saja, yang diharapkan umat Islam akan semakin tertinggal dan sisi-sisi keilmuan yang lain bagi umat Islam akan mengalami kemandekan dan terabaikan begitu saja karena anggapan bahwa sisi-sisi keilmuan yang lain itu hanya urusan duniawi saja. Bahkan dikotomi itu sering menjangkau pistemologis, yakni antara wahyu dengan akal, atau antara “ilmu-ilmu agama”  dengan “ilmu-ilmu umum”. Sebab itu, guna mengatasi disharmoni dikotomi tersebut para pemikir dan ilmuwan muslim menawarkan klasifikasi ilmu lengkap dengan hierarkhi mereka masing-masing.
Berbagai cabang ilmu dan bentuk-bentuk ilmu pengetahuan dipandang dari perspektif Islam pada akhirnya adalah satu. Dalam Islam sebenarnya tidak dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan “ilmu umum” (profan).  Berbagai disiplin ilmu  dan perspektif intelektual yang dikembangkan dalam Islam memang mengandung hierarkhi tertentu, tetapi hierarkhi itu pada akhirnya bermuara pada pengetahuan tentang “Hakikat Yang Maha Tunggal” yang merupakan substansi dari segenap ilmu. Inilah yang menjadi alasan mengapa para pemikir dan ilmuwan Muslim berusaha mengintegrasikan ilmu-ilmu yang dikembangkan peradaban-peradaban non-muslim ke dalam hierarkhi ilmu pengetahuan menurut Islam.
Seandaiya terjadi pengelompokan ilmu menjadi dua klasifikasi, maka masing-masing ilmu tersebut adalah merupakan dua sisi dari satu koin yang sama, yang pada esensinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Klasifikasi pertama adalah al-ulum al-naqliyyah, yakni ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan melalui wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal dan nalar. Klasifikasi kedua adalah al-ulum al-aqliyyah, yakni ilmu-ilmu intelek, yang  diperoleh terutama melalui penggunaan akal dan pengalaman pengujian empiris. Kedua klasifikasi ilmu tersebut di atas secara bersama-sama disebut sebagai al-ulum al-husuli, yaitu ilmu-ilmu perolehan. Penyebutan ini adalah untuk membedakan dengan “pengetahuan” (ma’rifah) yang diperoleh melalui ilham (kasyf).
Ilmu pengetahuan dengan tegas bersendi kepada pokok periksa panca indera yang lima : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan-kulit dan kecapan lidah dengan segala alat pembantunya, yang dibuat manusia dengan kepandaiannya. Tapi seluas-luas medan ilmu pengetahuan, tidaklah dia akan melampaui atau melebihi daerah yang dapat dicapai dan dikenal manusia dengan pancainderanya dan dengan pertolongan alat-alat yang ada padanya itu. Maka ilmu pengetahuan itu terhenti langkahnya di batas yang tidak dapat lagi dikenal dengan pancaindera dan alatnya itu.
Untuk mengetahui kenyataan yang di balik batas itu, manusia memerlukan jalan lain, dari yang dapat dihasilkan dengan kelengkapan alat anggota di dalam kejadiannya dan alat-alat lain yang dapat dibuatnya. Maka jalan itulah yang dibukakan Tuhan kepada manusia dengan perantara Agama. Jadi, artinya dengan jalan ilmu pengetahuan semat-mata, manusia tidak akan dapat mengenal kenyataan di balik batas itu.
Adalah merupakan kenyataan, bahwa kepercayaan agama sama sekali tidak akan bertentangan dengan pendapat ilmu-akal dan hukum-pikiran, sebab orang yang ber-agama tidak berlainan sifat akal dan hukum pikirannya dari manusia lainnya. Dan lagi jika kepercayaan agama hendak menyuruh manusia menerima sebagai kenyataan yang wajib diterimanya begitu saja, suatu perkara yang terang bertentangan dengan akalnya, tidaklah kepercayaan semacam itu akan sungguh kuat di dalam akalnya, dan tidaklah akan ada kekuatan dari kepercayaan semacam itu untuk mengemudikan kehendak dan kelakuannya. Sebaliknya malah, ilmu agama tidak akan mengabaikan kenyataan yang ditetapkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan. Di dalam ajaran agama dianjurkan agar setiap pokok kepercayaan agama, harus dikuatkan oleh paham dan pengertian tentang itu, dengan alasan ilmu pengetahuan.
Kedudukan ilmu pengetahuan dan agama adalah bukan bertentangan, melainkan agama adalah menambah dan menyambung apa yang tidak dapat lagi dilanjutkan oleh ilmu pengetahuan, karena sudah melampaui keluar medannya.
Pengelompokan disiplin “ilmu agama” secara implisit mengisyaratkan adanya dikotomi yang lazim di kalangan muslimin tentang “ilmu agama” pada satu pihak, dan “ilmu umum” pada pihak lain. Dikotomi yang muncul dan mapan sejak abad pertengahan sejarah Islam ternyata masih bertahan di kalangan para pemikir dan praktisi pendidikan di banyak wilayah dunia muslim, baik pada tingkat konsepsi maupun kelembagaan pendidikan.
Pandangan keilmuan dalam Islam yang menitik beratkan pada satu sudut pandang kehidupan ukhrawi saja, akan mengakibatkan dinamika keilmuan Islam hanya berkisar pada ilmu syari’at dan tashawuf saja. Sedangkan dari sisi lain mengalami kemandekan karena anggapan ilmu-ilmu itu semata-mata urusan duniawi. Dari sini mulai muncul dikotomi antara ulum ad-diin dan ulum ad-dunya, sampai sampai antara madrasah dan sekolah, antara kitab dan buku pun harus dibedakan.
Tafaqquh Fiddin yang dipahami secara sempit dan tebatas pada apa yang dimaksud dengan ulum ad-diin (ilmu-ilmu agama), secara eksklusif tidak pernah dikorelasikan dengan pemahaman ad-diin itu sendiri secara utuh, sedangkan ad-diin telah dipahami sebagai ketentuan-ketentuan Ilahi yang mendorong siapa pun yang berakal sehat, untuk berbuat sesuatu yang baik bagi mereka di dunia dan akhirat, yang tidak hanya mencakup urusan akhirat saja.
Dengan demikian, berarti ulumuddiin secara luas adalah ilmu-ilmu yang mempunyai kaitan langsung atau tidak langsung dengan wadh’ Ilahi, menyangkut urusan duniawi maupun ukhrawi. Kemudian bila wadh’ Ilahi itu mendorong bagi orang-orang yang berakal ke arah pencapaian sesuatu yang baik di dunia atau di akhirat mereka, maka ilmu-ilmu duniawi tidak perlu dihilangkan dari klasifikasi ulumuddin, karena persepsi dikotomis seperti itu mengakibatkan dimanika ilmiah dalam Islam cenderung lemah atau malah mandek, bahkan akan menjadikan umat Islam tertinggal dan lemah.
Kemandekan dinamika ilmiah inilah yang harus diatasi dengan memahamkan dan menegaskan kembali tentang Tafaqquh Fiddiin pada pengertian secara luas, yang mengarah pada pendalaman ilmu-ilmu agama dan semua ilmu-ilmu umum yang mendorong ke arah pencapaian sesuatu yang baik di dunia dan di akhirat.
Dengan demikian dikotomi ilmu dan sikap ambivalen sebagian umat Islam, yang beranggapan bahwa yang wajib diketahui adalah ilmu-ilmu agama secara khusus akan hilang, sesuai dengan ketentuan agama Islam itu sendiri dan akan terjadi integrasi intelektual dan ulama.
Untuk mempersiapkan kader ulama’ harus dilengkapi dengan dua kemampuan dasar, yaitu agama dan ilmu pengetahuan. Insya Allah dengan upaya tersebut akan melahirkan ulama’ yang berfungsi sebagai pendidik masyarakat, yaitu ulama yang berpengetahuan dalam, berpendidikan luas, serta mempunyai semangat yang dinamis yang mampu mempertemukan agama dan pengetahuan.
Ulama yang dimaksud dalam Al-Qur’an bukan hanya ulama dalam bidang agama saja, tetapi ulama dalam segala bidang ilmu pengetahuan yang lebih luas lagi, atau dengan ungkapan lain, karena agama Islam tidak mengenal pemisahan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Ilmu pengetahuan umum (Iptek) pun merupakan komponen yang sangat perlu bagi agama Islam.
Karena itu, pendidikan agama bukan saja berusaha meningkatkan kesadaran beragama, melainkan juga meningkatkan kemampuan umat untuk melihat pembangunan dalam perspektif transcendental, untuk melihat iman sebagai sumber motivasi pembangunan dan untuk mengikutsertakan iman dalam menyelami dan menghayati ilmu pengetahuan modern. Dengan demikian dapat meningkatkan kemampuan umat untuk menjalankan “moral reasoning”, untuk menguji keadaan dan kelakuan yang memerlukan suatu pertimbangan baru oleh karena ketentuan yang ada tidak mengaturnya.
Ilmu apapun, tidak hanya pendidikan agama saja, tetapi juga pengajaran ilmu-ilmu umum seperti sains,  teknologi, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu pengetahuan sosial, ilmu kewarganegaraan, ilmu-ilmu ekonomi, managemen dan lain sebagainya yang diarahkan untuk menuju kepada penyadaran akan kebesaran Allah, dan dakwah Islam, harus diajarkan dalam pendidikan Islam. Dengan demikian, tanggung jawab dakwah Islam dan pembinaan keimanan dan ketakwaan tidak hanya dibebankan pada pendidikan agama Islam saja, karena yang mengantarkan manusia pada kesadaran akan kebesaran Tuhan dan menjunjung tingga agama-Nya bukan hanya melalui ilmu-ilmu agama saja, tetapi juga melalui ilmu-ilmu yang lain.  Oleh karena itu, pendidikan Islam adalah terpadu antara keduanya, baik ilmu-ilmu agama itu sendiri maupun ilmu-umum.
Bertitik tolak dari uraian di atas, penekanan Tafaqquh Fiddiin dalam skripsi ini adalah bukan hanya pendalaman ilmu agama saja yang masuk dalam kategori ibadah mahdhoh, yaitu : ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nas dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Namun lebih luas lagi, yaitu : mencakup seluruh ilmu-ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan dan pelaksanaan agama, serta pengembangannya, termasuk ilmu keduniaan yang diarahkan untuk tujuan-tujuan akhirat.